Soft Skill Kampret?

By | February 3, 2016

Saya selalu benci itu. Dulu, sekitar 8 tahunan yang lalu, saya benci kala ada alumni yang datang ke kampus untuk menyampaikan kuliah tamu, atau kajian biasa, hal yang sering kali ia sampaikan adalah sebuah propaganda bahwa pelajaran di kuliah itu nggak penting, bahwa termodinamika ataupun matrap, ataupun matrek, atau pun OTK itu tak akan banyak terpakai di dunia kerja. Bahwa yang maha penting adalah kemampuan soft skill macam kemampuan negosiasi, menyampaikan pendapat, ataupun menyampaikan ide.

Penolakan itu, tentu saja bukan karena saya termasuk yang grogian dan kerap demam panggung. Tapi, lebih dari pada itu, apa jadinya bila semua mahasiswa teracuni faham seperti itu hingga tak ada lagi yang berlelah-lelah mendalami ilmu hingga kuliah asal-asalan, yang penting pintar ngomong dan bermulut manis. Ya..jawabannya adalah…kita akan menjadi bangsa sales, bangsa yang hanya menjadi penjual produk-produk luar. Sebab tak ada yang melakukan riset tentang teknologi, tentang pertanian, tentang kedokteran, karena tak ada lagi yang kompeten tentang itu, hingga tak lahir produk-produk bermutu buah karya teknologi .

Semuanya hanyalah pintar ngomong, pintar mempengaruhi orang untuk beli produk, pintar untuk negosiasi untuk mengegolkan sebuah transaksi. Kita akan menjadi bangsa yang ribut.

Saya terlalu berlebihan mungkin. Tapi begitulah faktanya. Tentu saja, saya tak menafikan bahwa soft skill semacam itu memang penting. Sangat penting. Tapi mementingkan suatu hal, tak serta merta menidakpentingkan hal lain. Ada hal yang bila disamapentingkan, dan berkembang secara maksimal dua atau tiga-tiganya, maka akan menghasilkan luaran yang luar biasa. Maka seorang yang engineer yang fasih betul akan dunia keteknikannya, tapi sekaligus pembicara yang baik, juga negosiator yang ulung, akan menjadi pribadi yang maksimal—menjadi pribadi yang ‘ribut’ nan berisi.

Baru-baru ini, setelah lepas cukup lama dari dunia kampus, saya kembali menemukan apa yang saya bencii itu. Adalah sebuah kuliah umum yang diselenggarakan alumni kala ada study excursie mahasiswalah settingnya. Pesertanya, sesuai nama acaranya, adalah dominasi mahasiswa, alumni, juga dosen yang ikut mendampingi para mahasiswa tersebut. Sedang pembicaranya adalah para alumni yang menduduki posisi cukup tinggi di tempat ia mengabdi. Anda pun kemudian bisa menebak, apa isi dari diskusi tersebut. Yup, ia mengerucut tentang ‘begini, loh, jalan untuk meraih sukses di dunia kerja’. Dan lagi-lagi, yang disampaikan racun tadi, bahwa soft skill lah yang lebih diperlukan ketimbang kedalaman pengetahuan akademis (sembari diberi penekanan bahwa IPK-nya selama kuliah dulu Cuma 2 koma sekian). Kemudian tepuk tangan, kemudian manggut-manggutnya mahasiswa, kemudian kecewanya saya.

Tapi kuliah atau diskusi tersebut kemudian menyadarkan saya satu hal: dunia kerja di Indonesia mungkin seperti itu. Yang jadi pembicara tersebut, ataupun yang sering diundang ke kampus untuk kuliah umum di depan mahasiswa, adalah orang-orang yang kebanyakan menduduki jabatan structural atas di perusahaan ia mengabdi. Dan pejabat structural tersebut, kebanyakan mungkin merasa bahwa apa yang ia dapat sejauh ini lebih karena kemapuan soft skillnya, bukan kamampuan teknis yang sebelumnya ia pelajari di kuliah.

Iya, kita memang bukan bangsa riset. Kita lebih sering menjadi bangsa pemakai hasil riset tersebut. Maka, penghargaan untuk orang-orang yang berkecimpung dalam riset (dengan disiplin ilmunya masing-masing) tidak sebanding dengan apa yang ia kerjakan. Bahkan, yang lebih miris, segala riset yang mengancam eksistensi korporasi besar luar, tak perlu hitungan lama, sengaja ditiadakan.

Memiliki kedalamaan ilmu teknis itu penting. Memiki kemampuan agar kemampuan teknis itu tersampaikan ke orang lain, juga penting. Jika dua kemapuan itu tak terhimpun dalam satu orang, maka dua orang dengan kamampuan yang saling melengkapi itu lah yang perlu disatubariskan. Kita memerlukan lebih banyak perusahaan yang komplit: yang melakukan riset untuk produk-produk baru, juga gencar memasarkan produk-produknya tersebut. Barulah dengan itu, kita akan adil menilai penting tidaknya sebuah keahlian.

Belajarlah! Belajarlah segalanya.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *