Fase

By | February 2, 2016

Salah satu fenomena menarik di dunia science dalam hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari adalah : bahwa untuk menuju ‘status’ yang lebih tinggi, akan selalu membutuhkan energy yang jauh lebih tinggi dari biasanya. Sebagai contoh misalnya, apabila kita akan menyeret benda dari keadaan diam ke keadaan bergerak –yang mana kita mafhumi bahwa bergerak mempunyai status lebih tinggi dari pada diam–, maka bagian yang paling berat (yaitu saat kita mengeluarkan tenaga lebih banyak), adalah saat pertama kali kita mencoba menggerakkannya dari keadaan diam. Fenomena ini, dalam dunia fisika, dapat dijelaskan oleh sebuah tetapan yang disebut dengan koefisien gesek.

Apabila benda itu diam, yang berlaku adalah koefisien gesek statis, sedangkan kalau bergerak yang berlaku adalah koefisien gesek kinetis. Karena nilai koefisien gesek kinetis itu akan selalu lebih rendah dibandingkan koefisien gesek kinetis, maka gaya yang dibutuhkan untuk melawan gesekan tersebut akan selalu lebih besar saat benda itu diam ketimbang bergerak. Maka saat kita menyeret beban, saat beban itu berhasil kita gerakkan dari kondisi diam, tenaga yang kita keluarkan akan jauh lebih kecil dibanding sebelumnya.

Fenomena yang sama terjadi saat kita merebus air. Untuk memanaskan air dari suhu ruangan sekitar 25 C ke 100 C, energy yang kita butuhkan hanya sekitar 314 kj/kg. Tapi, untuk mengubah air dengan suhu 100 C menjadi uap air dengan suhu yang sama, dibutuhkan energy 2246 kJ/kg, atau sekitar 7 kalinya., Latent heat memang nilainya jauh lebih besar dibanding sensible heat. Latent heat merujuk kepada energy yang dilepas/diserap untuk mengubah fase pada temperature yang sama, sedangkan sensible heat merujuk kepada energy yang dilepas/diserap akibat perubahan temperature.

food-pot-kitchen-cooking

Maka seperti itu juga lah mungkin kehidupan. Ada fase yang kita begitu mudahnya menjalani kehidupan, namun di suatu titik, ada saat dimana kita mesti sering-sering menghela napas panjang guna menghimpun energy. Lalu maju lagi. Mungkin terpental kemudian, sebab ternyata energy yang terhimpun belum cukup banyak. Menghimpun lagi. Melaju lagi. Demikian terus menerus.

Bila kita sudah berjalan, maka akan lebih mudah kalau hanya untuk menambah kecepatan. Namun ada suatu titik kita tak mungkin lagi untuk menambah kecepatan berjalan kita. Sudah menthok. Saaat itu lah kita mesti berlari jika masih ingin menambah kecepatan. Namun lari tentu saja berbeda dengan berjalan. Berbeda fase, berbeda tingkatan. Maka saat itulah, saat kita mengubah langkah dari berjaran menjadi berlari, energy untuk keterlaksanaannya menjadi berlipat besarnya. Penolakan-penolakan akan muncul. Hambatan-hambatan makin kerasa.

Serta yang lainnya. Segala yang berhubungan dengan perubahan fase akan menguras energy. Dari tidur menuju bangun, duh betapa beratnya. Dari lajang menjadi berpasang, ah siapapun pasti tahu betapa banyak cobaan menantang nan menghadang. Atau hal lainnya.

Tapi yang terpenting dari itu semua, yang perlu kita sadari, sebenarnya tahapan yang menguras energy itu sejatinya sesaat saja. Beratnya menyeret beban dari diam itu hanya di titik saat pertama kali kita menyeret. Besarnya energy untuk menguapkan air itu ya di titik 100 C tadi. Selanjutnya, akan lebih mudah. Mungkin tidak seringan sebelumnya, tapi juga tak seberat sebelumnya. Sebab saat kita telah melewati titik kritis perubahan fase tadi, sesungguhnya kapasitas diri kita telah bertambah. Kalau dulunya hanya lah air, maka apabila telah melewati titik 100 C tadi, kita telah menjadi steam. Zatnya mungkin sama, tapi fasenya beda, energy yang dikandung pun jauh lebih besar.

Saat kita masih siswa SMA, mungkin membayangkan betapa rumitnya mengerjakan skripsi. Tapi, begitu kita telah melewati tahapan SMA, dan lulus untuk kemudian menjadi mahasiswa, skripsi itu ternyata ya gitu-gitu saja. Bebannya mungkin semakin berat, tapi kapasitas kita pun juga lebih kuat untuk menanggung beban berat itu. Jika ternyata tak mampu, kita mungkin perlu mengevaluasi proses di belakang kita. Jangan-jangan, ada tahapan kritis yang kita by pass. Serupa percikan air yang ter-carry over ke steam : ia akan mudah saja terembunkan oleh hambatan sepele.

Ujian-ujian untuk menaikkan kapasitas diri kita tak pernah ada yang ringan, selalu berat. Tapi itu semua keniscayaan yang mesti dilewati untuk pertumbuhan diri. Tak bisa tak.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *