Manajemen Resiko Ala-ala

By | February 6, 2016

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kata ini dengan akibat yg kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Jika kita menyeberang jalan dengan kemungkinan akibatnya adalah tertabrak motor atau mobil, itulah yang dimaksud dengan kata ini. Dan jika ada dua kasus, yang satu menyeberang di jalan yang ramai dengan pengendara yang ugal-ugalan, sedangkan satu lagi menyeberang di jalanan yang sepi di pinggiran desa, maka kita pasti tahu bahwa kemungkinan untuk keduanya tertabrak kendaraan sama-sama ada, tapi tidak sama besar. Kata ini pun kemudian bisa teklasifikasi dalam besar-kecil, tinggi-rendah, ataupun diskalakan dalam bilangan.

Risiko. Dalam hal menyeberang jalan raya, kita tidak mungkin mengeliminir berbagai akibat tak menyenangkan dari tindakan kita tersebut, baik tertabrak ataupun terjatuh. Sebab kita memang tak akan mungkin bisa menghilangkan risiko. Tak akan pernah. Yang bisa kita lakukan adalah mengelola risiko tersebut. Wujudnya bisa beraneka, dengan menekannya sekecil mungkin, salah satunya. Salah duanya dengan memindahkannya ke tempat lain.

Dalam dunia majamen risiko, risiko ini didefinisikan sebagai perkalian antara likelihood dan consequences, antara keseringan atau kemungkinan terjadinya dengan keparahannya bila hal itu terjadi. Keduanya, likelihood dan consequences, lazimnya dibuat dalam skala empat atau 5, atau bahkan tujuh, terserah sang pembuatnya. Hingga kemudian didapatkan risk matrix dan membuat kita lebih mudah mengklasifikasikan risiko : very high, high, medium, atau low.

Risk Matrix_Potential Consequences
Risk matrix itu akan memudahkan kita untuk menganalisa sebuah risiko, mengelolanya, untuk kemudian menekannya sekecil mungkin, hingga tingkatannya menjadi ‘low risk’. Menyeberang di jalan yang penuh sepeda lalu lalang dengan kecepatan lumayan tinggi secara serampangan, konsekuensinya apabila kita tertabrak memang tak terlalu fatal, tapi kemungkinan untuk tertabraknya sangatlah besar. Maka risikonya pun juga tak rendah, meski tak tinggi juga. Sedangkan seseorang yang menyeberang di tikungan jalan yanag sepi, tapi sekali dua kali melaju mobil dengan kecepatan 120 km/jam, kemungkinan dia tertabrak memang kecil, tapi sekali tertabrak, habislah dia. Risikonya pun bukan di kategori low.

Untuk menekan lebih rendah lagi risiko untuk kasus pertama, cara yang bisa dilakukan adalah dengan menurunkan tingkat kemungkinan terjadinya, apapun caranya itu. Sedangkan untuk menurunkan risiko kasus kedua adalah dengan menurunkan tingkat keparahan apabila itu terjadi. Tiap orang mungkin memiliki kreatifitas yang berbeda umtuk menguranginya.

Mengelola risiko ini, menarik juga jika ingin menerapkannya dalam hubungannya dengan kecelakaan lalu lintas yang begitu kerap di jalanan Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, sebuah jalan yang begitu ramai dan kerap terjadi kecelakaan di beberapa titik, menjadi berkurang signifikan kejadian kecelakaannya ketika pemerintah membuat separator jalan sehingga jalan menjadi dua jalur. Tapi, tentu saja kecelakaan tidak menjadi benar-benar tak ada. Sebab kendaraan masih cukup padat dan kecepatan pemakai jalan justru cenderung meningkat ketika jalan menjadi dua lajur.

Menekan risiko terjadinya kecelakaan di jalan raya, lagi-lagi, memang memainkan dua variabel tadi: keparahan dan kemungkinan. Keparahan bisa ditekan dengan regulasi macam kewajiban menggunakan helm ataupun pembatasan kecepatan kendaraan. Sedangkan kemungkinan, ini yang menjadi pelik sekali karena akan banyak factor yang mempengaruhinya. Rambu-rambu lalu lintas, zebra cros, kepadatan lalu lintas, perilaku berkendara, keadaan jalan, adalah beberapa factor yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya kecelakaan. Hal-hal yang fisik akan mudah penerapannya, tinggal anggaran dan kemauan. Tapi yang non fisik, itu lah yang menjadi tantangan besarnya.

Perilaku berkendara, boleh jadi adalah instrument penting penyumbang besarnya kemungkinan terjadinya kecelakaan di jalanan Indonesia. Rambu lalu lintas tersedia, zebra cros telah banyak dibuat, jalanan juga sudah diperbaiki, tapi pengendara kita masih saja ugal-ugalan dan seenaknya pindah jalur. Belok tanpa memberi tanda, atau menerobos lampu merah, adalah contoh lain buruknya perilaku berkendara masyarakat kita.

Lalu bagaimana untuk memperbaiki perilaku pengendara tersebut agar bisa menurunkan kemungkinan terjadinya kecelakaan tadi? Penyuluhan, memperbanyak polisi lalu lintas, himbauan-himbauan, mungkin akan masuk daftar yang diusulkan. Tapi sayangnya, pengendara yang memenuhi jalanan kita banyak sekali. Berapa intensitasnya agar metode-metode di atas dapat menjangkau seluruh pengendara dan menyadarkannya? Kita pasti akan pesimis duluan membayangkannya. Sebab kontrolnya bukan di kita, tapi di tiap orang per orang pengendara tersebut.

Ya ya ya. Tulisan ini harus menawarkan penyelesaian. Maka, meskipun klasik, jawaban untuk menurunkan risiko kecelakaan di jalan raya tersebut adalah pengadaan transportasi massal dalam jumlah cukup dan manusiawi. Iya, dengan menggunakan transportasi massal, konsekuensi bila terjadi kecelakaan mungkin akan besar, sebab sekali bus atau kereta bertabrakan, akan banyak orang yang jadi korban. Tapi, variable satunya, kemungkinan, bisa kita tekan sekecil mungkin . Dengan beroperasinya transportasi massal dalam jumlah cukup, akan berdampak berkurangnya pengendara pribadi. Para pengendara ugal-ugalan tadi sudah menjadi penumpang yang boleh dikata tak punya andill menentukan kemungkina terjadinya kecelakaan. Fokus kita kemudian adalah pada sopir. Dengan jumlahnya yang relative sedikit, dan berhubungan dengan pekerjaan, kita bisa menekannya untuk bisa berkendara secara aman. Dan itu lebih terkontrol. Buat regulasi, perjelas sanksinya. Insyallah berjalan.

Anda kemudian mungkin menyangkal tulisan ini dengan kenyataan bahwa justru sopir bus itu lah yang kini kebanyakan ugal-ugalan di jalanan. Jawab saya, itu karena system yang tak jalan. Lain kali akan dibahas dengan pendekatan lainnya.

Oke. Sampai di sini saja. Salut buat anda yang sanggup menyelesaikan keseluruhan bacaan (membosankan) ini.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *