tentang segelas air yang tak melarutkan sejumput garam

By | February 8, 2016

Jawababnnya ada pada teori kelarutan. Alasan kenapa sejumput garam tak mampu lagi melarut dalam segelas air itu teralamatkan pada teori kelarutan. Lebih tepatnya, mungkin pada dua hal ini: jenuh yang sudah tercipta, atau pengadukan yang belum terlalu benar dan merata. Yang pertama berbicara tentang titik maksimal yang sudah tercapai, yang kedua menyinggung usaha yang belum benar-benar nyata.

Garam tentu mempunyai nilai kelarutan tertentu, tergantung apa pelarutnya. Seringnya, dinyatakan dengan satuan berat per satuan volume pelarut. Nilai inilah yang kemudian tak bisa terlampaui. Jadi jika dalam segelas larutan garam konsentrasinya sudah mencapai kelarutan garam dalam pelarut tersebut, maka sejumput –atau bahkan sebutir– garam yang kita tambahkan tak akan mampu lagi terlarutkan. Larutan itu telah jenuh dengan garam, maka garam yang tertambahkan hanya akan mengendap di dasarnya. Tak melarut. Atau kalau kita memaksa mengaduknya dengan sangat, maka butir-butir garam itu hanya melayang-layang untuk kembali mengendap juga kala kita menghentikan pengadukannya.
Nilai kelarutan tersebut, tentu saja diperoleh dari serangkaian penelitian dan percobaan. Sedikit demi sedikit garam ditambahkan ke sebuah pelarut sampai sebuah titik saat pelarut itu tak mampu lagi melarutkan garam. Inilah kemudian nilai kelarutan tersebut. Nilai yang tak mungkin terlewati. Tentu, pada koridor parameter tertentu.

Tapi akan selalu ada celah untuk berkelit dari keadaan. Rekayasa. Larutan yang telah jenuh dengan garam masih mungkin disusupi lagi garam. Merekayasa keadaan menjadi solusinya. Karena memang nilai kelarutan itu tergantung parameter tertentu. Temperatur salah satunya. Sudah jamak diketahui bahwa berbeda temperatur berbeda pula nilai kelarutannya. Dan karena lebih sering nilai kelarutan suatu zat akan naik seiring kenaikan temperatur, maka yang perlu kita lakukan kala nilai kelarutan sudah tercapai—larutan telah jenuh– dan kita masih menginginkan sejumput garam itu melarut di dalamnya, adalah dengan menaikkan temperaturnya. Demikian, terus-menerus. Sampai menaikkan temperatur tak lagi mempunyai nilai yang signifikan untuk menaingkatkan kelarutannya. Maka saat itu, saat tak ada signifikansi dari usaha menaikkan temperatur itu, besarkan saja wadahnya. Ganti gelas itu dengan sebuah teko, lalu tambah pelarutnya.

kelarutan

Tapi berhati-hatilah! Berhati-hatilah tentang sebab kedua yang tersebut di awal. Jangan-jangan usaha kita mengaduk garam yang kuranglah yang menjadi penyebab gagalnya garam itu melarut dengan sempurna. Saat itu, jangan terburu-buru merekayasa keadaan, apalagi merutukinya. Cukuplah dengan mengevaluasi cara kita melarutkan garam. Jangan-jangan yang kita larutkan masih berupa bongkahan garam kasar yang luas kontaknya dengan pelarut mengecil. Jangan-jangan cara mengaduk kita yang masih lemah tanpa daya. Jangan-jangan kita yang kurang sabar. Untuk itulah, kemudian, menjadi sangat penting untuk menyadari kelarutan garam. Tentang berapa garam yang mampu terlarut. Kesadaran ini, akan memberi kita mata untuk bertindak. Tidak membabi buta menambahakan garam pada larutan yang telah jenuh, tak juga terlalu tergesa memanaskan larutan bahkan ketika hanya separuh saja nilai kelarutan yang telah tercapai.

Jenuh! Mungkin bukan hanya tentang keadaan yang telah menyesak. Mungkin bukan tentang lingkungan yang menyempit dan menggelisahkan. Mungkin juga bukan tentang kebutuhan sebuah wadah yang lebih besar dan melegakan–merekayasa. Mungkin, ini tentang usaha mengaduk yang kurang. Mungkin tentang kita. Tentang cara kita!

Mengetahui kapasitas diri menjadi penting. Mengenali diri sendiri menjadi utama. Sampai manakah batas kita. Tapi, tak sesaklek nilai kelarutan tadi—dimana nilainya sudah tertentu dan tak bisa dilanggar, tentang nilai diri kita ini lebih lentur. Jika dalam pelarutan garam tak mampu melampau nilai kelarutannya, maka pada kita, kaidahnya menjadi begini: ‘jika kita sudah mampu mencapai suatu titik, maka kita harus mampu lebih dari titik itu’. Sebab kita memiliki sesuatu yang namanya pembelajaran. Jika kita sudah mampu melewati suatu keadaan yang begitu berat, sudah seharusnyalah kita mampu melewati suatu keadaan yang lebih berat dari itu.

Maka saya menyukai pernyataan rekan kerja ini. Rekan kerja yang ‘terlunta-lunta’ di korsel setelah beasiswa S2-nya diputus secara sepihak. Bekerja sebagai pencuci piring di restoran lalu lanjut menyapu lantai di stasiun, sepulang dari laboratorium di malam hari. Katanya, “jika saya diberi kesempatan untuk mengulanginya, maka saya meminta yang lebih berat dari itu. Agar saya tahu sampai sebatas mana kemampuan saya”. Ia ingin tahu titik jenuh dirinya.
Jenuh. Memang tentang kita dan keadaan. Tentang usaha kita dan daya tampung lingkungan. Dan kita punya cara sendiri pastinya untuk mengatasinya. Dengan alasannya tentu. Antara menaikkan suhu, memperbesar wadah dan menambah pelarut baru, atau mengubah kerja kita dengan cara baru. Atau kolaborasi kedua atau ketiganya.

Jenuh. Mungkin tak terselesaikan dengan sekedar jeda.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *