Sastrawan Fisika

By | July 9, 2016

“Pelajaran apa yang paling tidak disukai?”

Demikian tanya saya kala itu, santai, pada lima orang anak usia belasan tahun yang sedang melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tempat saya bekerja. Mereka adalah murid-murid SMK tak jauh dari perusahaan dimana saya mengabdi yang mana PKL ini adalah salah satu tahapan yang mesti mereka lalui ketika waktunya.

Satu-satu kemudian saya minta untuk menyampaikan jawabnya:

“Fisika”
“Bahasa arab, Pak”
“Fisika”
“ehmm..Matematika”

mathematics-757566_960_720Entah apa motivasi saya kala itu menanyakannya. Hanya saja saya perlu membuat banyak jeda dari pembahasan yang rasa-rasanya terasa berat bagi mereka yang masih belajar dasar-dasar. Jeda ini, bagi saya, akan membuat yang terasa berat akan terpotong-potong menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah untuk dimamah otak. Setidaknya itu lah dulu yang saya lakukan ketika belajar menjelang ujian.

Tapi dari pertanyaan iseng itu kemudian berlanjut menjadi hal yang menarik. Matematika atau fisika mungkin boleh jadi menjadi mata pelajaran yang menjadi momok sebagian besar siswa hingga menjadi lumrahlah jika banyak dari siswa tersebut yang tak menyukainya. Tapi, apakah memang begitu?

“Biasanya, pelajaran yang tak disukai itu karena guru mata palajaran tersebut tidak enak mengajarnya”, sahut saya kemudian

“iyyaaa”, dan kompaklah jawaban itu.

Aha! Ini boleh jadi PR besar kita. Benar, pelajaran yang dianggap sulit mungkin akan membuat banyak siswa tak menyukai pelajaran tersebut. Tapi, fakta bahwa bagaimana pelajaran itu diajarkan dengan cara yang tidak menyenangkan adalah hal lain yang ternyata memiliki andil yang cukup besar terhadap ketidaksukaan siswa terhadap pelajaran tersebut. Maka, kolaborasi keduanya, pelajaran yang sulit dan diajarkan dengan membosankan, adalah kombinasi ampuh untuk membuat siswa melabelinya dengan kata ‘TAK SUKA’.

Maka, harusnya tak ada pelajaran yang sulit selagi itu diajarkan dengan cara yang menimbulkan minat peserta didik. Maka, harusnya yang ada hanyalah pelajaran yang menantang ketika ada pelajaran yang belum juga mampu terpahami tapi begitu menarik hati untuk dipelajari. Maka, harusnya tugas kita lah membuat itu semua menjadi nyata dengan segera.

“Lalu, kalau saya menjadi guru, apakah saya tipe guru yang menyenangkan atau tidak?”, demikian canda saya. Sebelumnya, saya memang telah panjang lebar menjelaskan pengantar proses ammonia yang menjadi tugas saya.

“menyenangkaaaaan”, jawab mereka, lagi-lagi kompak.

Tidak! Saya bukanlah pembicara yang baik, bukan juga tukang menerangkan yang menyenangkan untuk berlama-lama didengarkan. Hanya saja, ketika mulai sesi mengajar proses ammonia ini, saya kebingungan memulai dari mana.Jika yang kerja praktek adalah mahasiswa, mudah lah untuk menjelaskannya sebab mereka sudah mempunyai dasar hingga tinggal mendengar secara langsung aplikasinya. Tapi ini anak SMK?

Oke. Tentu saja saya tak boleh meng-under-estimate siswa-siswa SMK ini.

“Tekanan?”, tanya mereka ragu

“Sekarang kita ini berada di tekanan berapa?”, pancing saya

Tak ada jawaban.

Baiklah. Mungkin saya mesti bercerita banyak.

Bercerita. Benar, bercerita. Metode yang sering kali dipakai untuk mengajari balita itu ternyata manjur juga digunakan untuk mengajari siswa SMK yang belum ngeh apa itu tekanan, fase, satuan, serta kata eksakta sejenis. Membayangkan tekanan tinggi dengan sebuah ruang sempit dengan penuh sesak orang nyatanya lebih mereka fahami, mengajarkan konsep loop, purge atau recycle dalam sintesa ammonia dengan membandingkannya dengan bus yang berputar-putar ternyata lebih mereka mengertii. Dan mereka menyukainya. Menyukai pengajarannya, meski tak menjamin seketika itu mereka mengerti benar apa yang sedang diajarkan. Tapi, paling tidak, bibit suka yang tertanam adalah modal besar untuk mereka mencari tahu. Mencari tahu lebih banyak.

Akhirnya, barangkali perlu para pendongeng untuk mengajarkan matematika. Atau sastrawan atau seniman untuk memberi pelajaran Fisika. Agar angka-angka dan rumus panjang itu semenarik sebuah cerita.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *